Pada Tahun 1997 "demam emas" melanda Kota Nabire di daerah Topo,  Distrik Uwapa, 80 kilometer dari Nabire menjadi salah satu pusat pendulangan emas tradisional, dan banyak pendulang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Kala itu beberapa pendulang meminta pelayanan firman dari Tim Pesat Nabire setiap Hari Minggu.

Seiring berjalannya waktu pos para pendulang itu berkembang menjadi bangunan tempat ibadah oikumene dan hal itu menarik perhatian beberapa denominasi gereja yang ada di Nabire. Karena sudah banyak yang melayani di daerah itu tim dari Pesat pun tidak pernah melayani di tempat itu lagi.

Lambat laun emas pun mulai sulit ditemukan dan lokasi ini mulai ditinggalkan para pendulang, juga pelayanan dari gereja-gereja juga hampir tidak ada, meskipun di tempat itu masih ada beberapa keluarga, dengan seorang gembala yang masih bertahan dan mempertahankan jemaat ini sebagai jemaat oikumene selama tiga belas tahun.

Pada Tanggal 29 Agustus 2020 Rombongan Tim Pesat Nabire kembali melayani ke tempat itu, sekitar tiga jam perjalanan , tim langsuk mempersiapkan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Daniel Alexander. Dengan beralas tikar dan ada yang tidur dibangku-bangku gereja semua tim menginap di lokasi itu, baru keesokan harinya tim dibagi menjadi tiga rombongan untuk melayani ibadah Minggu di Kilo 38, 74 dan di Kilo 80.

Selesai Ibadah rombongan langsung pulang ke Nabire dan ke depan akan siatur jadwal untuk pelayanan ke tempat yang telah lama terabaikan itu. (Ö)

pelayanan km 80