Sekolah tingkat SMP dan SLTA di persekolahan Yayasan Pesat Nabire sudah melakukan proses pembelajaran tatap muka namun tetap menggunakan protokol kesehatan sesuai dengan instruksi dinas terkait.

SMP dan SMA Anak Panah membagi tiap kelas menjadi dua, dan masing-masing belajar dengan jadwal yang berbeda. Jam pelajaran dan pun di kurangi namun pelajaran yang belum terkover pada jam tatap muka dilakukan secara daring.

Di gerbang sekolahpun dilakukan pengukuran suhu serta setiap yang masuk diwajibkan mencuci tangan. Bukan hanya di setiap sudut sekolah yang disediakan tempat cuci tangan namun disetiap kelas juga disediakan lengkap dengan penyemprot disinfektan.

Walaupun demikian Yayasan Pesat Nabire juga mempersiapkan media pembelajaran berupa LMS yang siap digunakan. Adapun kendala dari pembelajaran daring ini adalah layanan internet di Nabire yang lambat dan mahalnya kuota data internet, ditambah lagi masih banyak anak-anaknyang tidak memiliki kompuer ataupun gaget . SMA Anak panah berinisiatif menerima donasi gaget bekas yang sudah tidak dipakai lagi untuk membantu anak anak yang belum memiliki.

Sementara untuk tingkat TK dan SD masih menggunakan metide luring bagibyang memiliki alat dan akses internet bisa mengikuti kelas digital dari rumah, bagi yang tidak punya setiap pagi orang tua harus mengambil materi dan lks yang disediakan di sekolah.(Ö)

protokol covid 19